Untuk Mama
Dia adalah orang yang pertama kali aku lihat saat aku terlahir di dunia ini. Dia adalah sosok yang tidak kenal lelah mendidiku dari kecil hingga saat ini. Dia adalah figur yang sangat sabar menghadapi segala tingkahku yang terkadang luar biasa menyebalkan. Dia juga sosok yang tiada henti menggantungkan sejuta angan, harapan, serta diiringi doa untuk masa depanku kelak.
Aku memanggil dia Mama.
Waktu kecil, aku tidak terlalu memikirkan tentang ini. Aku tidak mampu mendefinisikan betapa berartinya Mama dihidupku. Yang aku tau, Mama selalu ada didekatku. Menemaniku kemanapun. Bahkan waktu kecil, kehilangan Mama semenitpun aku bisa menangis sampai tetangga panik semua. Padahal Mama hanya sedang ke warung.
Tapi waktu itu, aku masih belum paham.
Lambat laun aku mulai tumbuh, setiap pertumbuhanku tak lepas dari pantauannya. Saat aku mulai masuk sekolah dasar, dia begitu sibuk mempersiapkan seragam dan perlengkapan sekolah lainnya. Dia mengantarku hingga ke dalam kelas, bahkan menungguku disamping jendela kelas. Dia memperhatikanku yang sedang beradaptasi dengan dunia pendidikan.
Aku tidak menyebut bahwa aku tidak mandiri karena aku masih diantar jemput -bahkan ditunggui selama di sekolah- sampai aku lulus sekolah dasar. Teman-temanku bilang aku manja, mereka bilang aku penakut. Tidak, mereka salah, mereka hanya iri Mama mereka tak bisa seperti Mamaku. Dia terlalu khawatir terjadi apa-apa saat aku di sekolah, meski dia tau umurku sudah cukup untuk dapat menjaga diri.
Hari pertama masuk SMP, aku masih diantar bahkan ditunggui olehnya. Dia masih tetap khawatir meski umurku sudah masuk kategori remaja. Aku memiliki adik yang hanya berselisih tiga tahun denganku. Dia juga melakukan hal yang sama dengan adikku. Dia mampu dengan adil menjaga aku dengan adikku. Orang bilang, anak pertama itu kadang tidak diperhatikan, karena dia memiliki adik. Aku ingin membantah, bahkan rasa perhatian Mamaku tidak pernah berkurang sampai aku memiliki adik kecil lagi. Dia tetap memperhatikanku seperti biasanya.
Hanya saja, saat itu aku masih belum mampu merenunginya. Aku masih seorang anak yang tumbuh menjadi remaja. Aku belum berpikir sampai sana. Yang aku tau, Mama selalu ada untukku.
Kelas tiga SMP aku mulai mandiri, aku pikir begitu. Meski segala sesuatu aku masih perlu bantuannya, tapi setidaknya Mama tidak mengantarku lagi ke sekolah. Sebenarnya dari kelas 1 SMP Mama juga sudah tidak mengantarku, dia hanya mengantar dihari pertama masuk. Tapi setiap pulang sekolah, aku tau dia selalu menunggu. Karena jika aku pulang telat sedikit saja, dia pasti akan bertanya aku habis darimana.
Waktu itu aku risih. Aku sudah besar, kenapa hidupku masih seperti ini? Tapi Mama memiliki cara dalam mendidiku. Dia hanya bertanya kenapa aku pulang telat, atau aku mau pergi kemana. Dia tidak melarangku untuk bermain, dia hanya perlu tau aku main kemana. Dan dia hanya berpesan agar aku ingat waktu saat bermain. Itu bukan hanya saat SMP, tapi sampai saat ini aku selalu mengatakan jika pergi main, dan memiliki jam pulang.
Mama juga selalu memantau nilai-nilai sekolahku. Aku tau, nilai-nilai sekolahku yang tergolong memuaskan tidak didapatkan hanya sekedar aku belajar atau aku memang cerdas *ups* tapi semua itu lagi-lagi tak luput dari segala doanya. Aku mengetahui semua itu, karena setiap kali aku ujian dia selalu solat malam, menyebut namaku di dalam doanya, bahkan dia juga berpuasa untuk mendapatkan ridho-Nya untuk aku yang sedang ujian.
Aku tau jasa-jasanya sangat banyak. Tapi tak jarang aku berselisih paham dengannya. Tak jarang terjadi keributan antara aku dengan Mama. Kadang, Mama sampai berteriak marah jika terlalu kesal terhadapku. Bahkan aku sempat membuatnya menangis karena kelakuanku.
Mama adalah ibu rumah tangga, tapi dia juga bekerja. Meski bekerja, ia tetap mengutamakan anak-anaknya. Karena aku lebih sering melihatnya dirumah daripada di tempat kerjanya. Tapi aku tau dia lelah, tapi dia ingin bekerja karena menurutnya anak-anaknya sudah tumbuh semakin besar, dan memerlukan biaya yang semakin meningkat.
Aku lulus dari masa sekolah. Aku mengatakan pada Mama bahwa aku mau kuliah. Ditengah ekonomi keluarga kami yang terbilang tidak terlalu baik, Mama tidak pernah melarangku untuk kuliah. Hanya saja, saat itu Mama mengatakan sebaiknya jangan tahun ini. Dia belum mampu untuk membiayai pendidikanku lagi. Karena dua adikku masih bersekolah.
Dari situ aku mulai berpikir, jika aku memaksakan diri untuk kuliah, maka aku hanya akan menyiksanya lebih jauh. Tapi tekadku tetap ingin kuliah tahun ini, meski setelah lulus aku justru sibuk bekerja. Dunia kerja, tak lepas dari pantauannya. Setiap pagi dia masih sibuk untuk mengurus makananku, untuk sarapan ataupun bekal di kerjaan. Padahal, aku sudah memiliki gaji untuk membeli makan.
Gaji yang aku dapatkan dari hasil kerja, tidak pernah dia memintanya. Dia menyuruhku untuk menyimpan, untuk biaya pendidikanku nanti. Tapi aku tau dia sebenarnya membutuhkan uang untuk kebutuhan adik-adikku. Aku sudah tumbuh sedewasa ini berkatnya, aku tidak mungkin membiarkannya menanggung beban sendirian lagi. Aku sudah mampu berpikir Mama.
Aku masih berada di dunia kerja, sampai akhirnya aku memutuskan untuk kuliah. Aku berhasil kuliah di tahun ini, tanpa menundanya seperti keinginan Mama. Aku sudah banyak merepotkannya, maka aku memutuskan agar dia tidak memikirkan beban kuliahku.
Meski sebenarnya, meski sudah bekerja, aku masih sering meminta uang dengannya. Bahkan kuliah yang semula ingin aku tanggung sendiri, beberapa kali juga melibatkannya.
Kini, aku mencoba mandiri. Aku mencoba tinggal jauh dari Mama. Dan aku merasakan hal yang janggal. Ini tidak semudah yang aku bayangkan. Delapan belas tahun aku selalu dibayangi kehadirannya, terasa aneh saat aku tinggal sendirian. Aku memang tidak tinggal jauh darinya, seminggu sekali atau tiga hari sekali aku masih sering pulang ke rumah. Karena aku merasakan sulitnya hidup di luar. Berawal dari seminggu sekali, tiga hari sekali, bahkan tak jarang aku pulang setiap hari ke rumah karena aku ternyata belum bisa hidup mandiri.
Terlalu banyak hal yang Mama lakukan hingga aku tumbuh sebesar ini. Mama, terimakasih untuk semuanya. Terimakasih untuk segala cinta, kasih sayang, perhatian yang tidak akan ada duanya di hidupku. Beberapa kali aku mungkin mengabaikannya, membuatnya kesal, atau hal-hal lain yang kerap kali membuatnya marah.
Saat ini, aku memang bukan apa-apa. Saat ini, aku memang belum menjadi siapa-siapa. Tapi aku yakin, suatu saat nanti, berkat doa dan perjuanganmu dan perjuanganku, aku ingin menjadi orang berhasil.
Di usiaku saat ini, aku mungkin jarang ada di rumah. Aku mungkin lebih memilih tinggal jauh dari rumah dan pulang beberapa hari sekali. Aku sibuk dengan pekerjaan dan kuliahku. Tapi percayalah, apa yang aku lakukan saat ini, semata untuknya. Saat ini aku sedang berjuang untuk membahagiakannya, meski ditengah perjuanganku masih sering merepotkannya. Tapi, tunggu aku. Tunggu aku memakai toga kelulusanku dan berfoto dengannya. Aku, anaknya, yang bukan berasal dari keluarga berada, juga mampu berpendidikan sampai sarjana nanti. Meski cita-citaku tidak berhenti sampai disitu, dia tetap mendukungku, ditengah banyaknya suara yang mengatakan cita-citaku terlalu tinggi, dia justru meyakinkanku bahwa aku pasti mampu.
Tunggu aku, untuk dapat membahagiakannya seutuhnya.
Dia yang paling mengerti tentang aku. Dia yang selalu ingin tau tentang hidupku. Dia yang masih membangunkanku di pagi hari dan membuat masakan untukku. Dia yang akan terus menelponku jika beberapa hari aku tidak pulang ke rumah.
Aku percaya aku bisa. Untuk dia. Untuk tujuanku membahagiakannya. Aku percaya Allah juga akan menunjukan jalan terbaik untuk niatku ini.
***
Apa yang kuberikan untuk mama
Untuk mama tersayang
Tak kumiliki sesuatu berharga
Untuk mama tercinta
Hanya ini kunyanyikan
Senandung dari hatiku untuk mama
Hanya sebuah lagu sederhana
Lagu cintaku untuk mama
Walau tak dapat selalu ku ungkapkan
Kata cintaku 'tuk mama
Namun dengarlah hatiku berkata
Sungguh kusayang padamu mama
Lagu cintaku untuk mama...
Aku memanggil dia Mama.
Waktu kecil, aku tidak terlalu memikirkan tentang ini. Aku tidak mampu mendefinisikan betapa berartinya Mama dihidupku. Yang aku tau, Mama selalu ada didekatku. Menemaniku kemanapun. Bahkan waktu kecil, kehilangan Mama semenitpun aku bisa menangis sampai tetangga panik semua. Padahal Mama hanya sedang ke warung.
Tapi waktu itu, aku masih belum paham.
Lambat laun aku mulai tumbuh, setiap pertumbuhanku tak lepas dari pantauannya. Saat aku mulai masuk sekolah dasar, dia begitu sibuk mempersiapkan seragam dan perlengkapan sekolah lainnya. Dia mengantarku hingga ke dalam kelas, bahkan menungguku disamping jendela kelas. Dia memperhatikanku yang sedang beradaptasi dengan dunia pendidikan.
Aku tidak menyebut bahwa aku tidak mandiri karena aku masih diantar jemput -bahkan ditunggui selama di sekolah- sampai aku lulus sekolah dasar. Teman-temanku bilang aku manja, mereka bilang aku penakut. Tidak, mereka salah, mereka hanya iri Mama mereka tak bisa seperti Mamaku. Dia terlalu khawatir terjadi apa-apa saat aku di sekolah, meski dia tau umurku sudah cukup untuk dapat menjaga diri.
Hari pertama masuk SMP, aku masih diantar bahkan ditunggui olehnya. Dia masih tetap khawatir meski umurku sudah masuk kategori remaja. Aku memiliki adik yang hanya berselisih tiga tahun denganku. Dia juga melakukan hal yang sama dengan adikku. Dia mampu dengan adil menjaga aku dengan adikku. Orang bilang, anak pertama itu kadang tidak diperhatikan, karena dia memiliki adik. Aku ingin membantah, bahkan rasa perhatian Mamaku tidak pernah berkurang sampai aku memiliki adik kecil lagi. Dia tetap memperhatikanku seperti biasanya.
Hanya saja, saat itu aku masih belum mampu merenunginya. Aku masih seorang anak yang tumbuh menjadi remaja. Aku belum berpikir sampai sana. Yang aku tau, Mama selalu ada untukku.
Kelas tiga SMP aku mulai mandiri, aku pikir begitu. Meski segala sesuatu aku masih perlu bantuannya, tapi setidaknya Mama tidak mengantarku lagi ke sekolah. Sebenarnya dari kelas 1 SMP Mama juga sudah tidak mengantarku, dia hanya mengantar dihari pertama masuk. Tapi setiap pulang sekolah, aku tau dia selalu menunggu. Karena jika aku pulang telat sedikit saja, dia pasti akan bertanya aku habis darimana.
Waktu itu aku risih. Aku sudah besar, kenapa hidupku masih seperti ini? Tapi Mama memiliki cara dalam mendidiku. Dia hanya bertanya kenapa aku pulang telat, atau aku mau pergi kemana. Dia tidak melarangku untuk bermain, dia hanya perlu tau aku main kemana. Dan dia hanya berpesan agar aku ingat waktu saat bermain. Itu bukan hanya saat SMP, tapi sampai saat ini aku selalu mengatakan jika pergi main, dan memiliki jam pulang.
Mama juga selalu memantau nilai-nilai sekolahku. Aku tau, nilai-nilai sekolahku yang tergolong memuaskan tidak didapatkan hanya sekedar aku belajar atau aku memang cerdas *ups* tapi semua itu lagi-lagi tak luput dari segala doanya. Aku mengetahui semua itu, karena setiap kali aku ujian dia selalu solat malam, menyebut namaku di dalam doanya, bahkan dia juga berpuasa untuk mendapatkan ridho-Nya untuk aku yang sedang ujian.
Aku tau jasa-jasanya sangat banyak. Tapi tak jarang aku berselisih paham dengannya. Tak jarang terjadi keributan antara aku dengan Mama. Kadang, Mama sampai berteriak marah jika terlalu kesal terhadapku. Bahkan aku sempat membuatnya menangis karena kelakuanku.
Mama adalah ibu rumah tangga, tapi dia juga bekerja. Meski bekerja, ia tetap mengutamakan anak-anaknya. Karena aku lebih sering melihatnya dirumah daripada di tempat kerjanya. Tapi aku tau dia lelah, tapi dia ingin bekerja karena menurutnya anak-anaknya sudah tumbuh semakin besar, dan memerlukan biaya yang semakin meningkat.
Aku lulus dari masa sekolah. Aku mengatakan pada Mama bahwa aku mau kuliah. Ditengah ekonomi keluarga kami yang terbilang tidak terlalu baik, Mama tidak pernah melarangku untuk kuliah. Hanya saja, saat itu Mama mengatakan sebaiknya jangan tahun ini. Dia belum mampu untuk membiayai pendidikanku lagi. Karena dua adikku masih bersekolah.
Dari situ aku mulai berpikir, jika aku memaksakan diri untuk kuliah, maka aku hanya akan menyiksanya lebih jauh. Tapi tekadku tetap ingin kuliah tahun ini, meski setelah lulus aku justru sibuk bekerja. Dunia kerja, tak lepas dari pantauannya. Setiap pagi dia masih sibuk untuk mengurus makananku, untuk sarapan ataupun bekal di kerjaan. Padahal, aku sudah memiliki gaji untuk membeli makan.
Gaji yang aku dapatkan dari hasil kerja, tidak pernah dia memintanya. Dia menyuruhku untuk menyimpan, untuk biaya pendidikanku nanti. Tapi aku tau dia sebenarnya membutuhkan uang untuk kebutuhan adik-adikku. Aku sudah tumbuh sedewasa ini berkatnya, aku tidak mungkin membiarkannya menanggung beban sendirian lagi. Aku sudah mampu berpikir Mama.
Aku masih berada di dunia kerja, sampai akhirnya aku memutuskan untuk kuliah. Aku berhasil kuliah di tahun ini, tanpa menundanya seperti keinginan Mama. Aku sudah banyak merepotkannya, maka aku memutuskan agar dia tidak memikirkan beban kuliahku.
Meski sebenarnya, meski sudah bekerja, aku masih sering meminta uang dengannya. Bahkan kuliah yang semula ingin aku tanggung sendiri, beberapa kali juga melibatkannya.
Kini, aku mencoba mandiri. Aku mencoba tinggal jauh dari Mama. Dan aku merasakan hal yang janggal. Ini tidak semudah yang aku bayangkan. Delapan belas tahun aku selalu dibayangi kehadirannya, terasa aneh saat aku tinggal sendirian. Aku memang tidak tinggal jauh darinya, seminggu sekali atau tiga hari sekali aku masih sering pulang ke rumah. Karena aku merasakan sulitnya hidup di luar. Berawal dari seminggu sekali, tiga hari sekali, bahkan tak jarang aku pulang setiap hari ke rumah karena aku ternyata belum bisa hidup mandiri.
Terlalu banyak hal yang Mama lakukan hingga aku tumbuh sebesar ini. Mama, terimakasih untuk semuanya. Terimakasih untuk segala cinta, kasih sayang, perhatian yang tidak akan ada duanya di hidupku. Beberapa kali aku mungkin mengabaikannya, membuatnya kesal, atau hal-hal lain yang kerap kali membuatnya marah.
Saat ini, aku memang bukan apa-apa. Saat ini, aku memang belum menjadi siapa-siapa. Tapi aku yakin, suatu saat nanti, berkat doa dan perjuanganmu dan perjuanganku, aku ingin menjadi orang berhasil.
Di usiaku saat ini, aku mungkin jarang ada di rumah. Aku mungkin lebih memilih tinggal jauh dari rumah dan pulang beberapa hari sekali. Aku sibuk dengan pekerjaan dan kuliahku. Tapi percayalah, apa yang aku lakukan saat ini, semata untuknya. Saat ini aku sedang berjuang untuk membahagiakannya, meski ditengah perjuanganku masih sering merepotkannya. Tapi, tunggu aku. Tunggu aku memakai toga kelulusanku dan berfoto dengannya. Aku, anaknya, yang bukan berasal dari keluarga berada, juga mampu berpendidikan sampai sarjana nanti. Meski cita-citaku tidak berhenti sampai disitu, dia tetap mendukungku, ditengah banyaknya suara yang mengatakan cita-citaku terlalu tinggi, dia justru meyakinkanku bahwa aku pasti mampu.
Tunggu aku, untuk dapat membahagiakannya seutuhnya.
Dia yang paling mengerti tentang aku. Dia yang selalu ingin tau tentang hidupku. Dia yang masih membangunkanku di pagi hari dan membuat masakan untukku. Dia yang akan terus menelponku jika beberapa hari aku tidak pulang ke rumah.
Aku percaya aku bisa. Untuk dia. Untuk tujuanku membahagiakannya. Aku percaya Allah juga akan menunjukan jalan terbaik untuk niatku ini.
***
Apa yang kuberikan untuk mama
Untuk mama tersayang
Tak kumiliki sesuatu berharga
Untuk mama tercinta
Hanya ini kunyanyikan
Senandung dari hatiku untuk mama
Hanya sebuah lagu sederhana
Lagu cintaku untuk mama
Walau tak dapat selalu ku ungkapkan
Kata cintaku 'tuk mama
Namun dengarlah hatiku berkata
Sungguh kusayang padamu mama
Lagu cintaku untuk mama...
Komentar
Posting Komentar