Aku berarti, Untuk diriku.

Dia adalah sempurna, mengejarnya bagiku adalah sesuatu yang biasa. Dia adalah sempurna, mengikutinya bagiku adalah sesuatu yang maklum. Dan dia adalah sempurna, mengejarnya bagiku adalah sesuatu yang lumrah.

Aku mencintainya seperti bayangan yang mencintai benda. Yang tak terpisah walah tak bisa bersama. Yang diam diam menjadikannya tujuan untuk terus ada dan nyata. Tak peduli dengan para mata mata yang menganggapku benalu penghinggap, aku selalu mengikutinya tanpa pernah mengeluh lelah. Tak peduli dengan suara suara sumbang penyentil hati, dan aku selalu berada di sampingnya tanpa pernah mengucap kalah. Dan tak peduli dengan seberapa sering ku ditolak, aku selalu mengikutinya tanpa pernah sedikitpun menyerah. Aku tau aku bodoh. Tapi aku tak peduli.

Aku tak peduli. Aku menutup mata, telinga, dan segala indra demi terus bersamanya. Karena yang kutahu, hanya dialah satu-satunya orang yang tersisa. Di antara banyaknya orang yang terus memunggungiku, dialah yang tetap tinggal. Aku selalu mengiranya tulus sampai pada akhirnya kutahu semua dusta.

Terima kasih pada dusta yang telah membuka mataku selebar-lebarnya. Terima kasih pada dusta yang telah menajamkan telingaku setajam-tajamnya. Dan terima kasih untuk segala dusta yang telah membuatku sadar kalau aku terlalu mencintainya sampai aku lupa mencintai diriku sendiri.

Karena mencintainya, aku lupa dengan napasku. Karena mencintainya, aku lupa dengan desiran darah dalam tubuhku. Karena mencintainya, aku lupa dengan pompaan jantung dalam dadaku. Dan karena mencintainya, aku lupa dengan hidupku, impianku, tujuanku, cita-citaku, dan bahkan jati diriku.

Aku lupa dengan segala galanya sampai aku tak mengenal diriku sendiri. Karena terlalu sibuk memikirkannya, aku sampai lupa bercermin dan menilai betapa berharganya diriku untuk selalu merendah demi dicintai olehnya yang sempurna. Sang maha sempurna sampai aku lupa kalau aku berharga.

Aku berharga, aku berharga, dan sekali lagi ku katakan kalau aku berharga. Walau tidak ada yang menilainya begitu, setidaknya aku bisa menilai sendiri. Walau tidak ada yang mengucapkannya begitu, setidaknya aku mampu mengucap sendiri.

Aku berharga, Tuhan. Aku tahu kau tahu.

Selama ini aku selalu mengira hidupku sendirian hingga aku melupakan kehadiran-Mu yang selalu ada dan terjaga. Yang selalu memberiku napas, degup jantung, dan juga kasih sayang. Maafkan aku yang terlalu buta sampai sampai menganggap hadir-Mu fana. Maafkan aku, Tuhan. Maafkan aku.

Sekarang, untuk menebus segala kesalahanku pada-Mu, aku akan memulai semua dari awal. Aku akan mencoba memaafkan dan mengikhlaskan masa laluku yang kelam, lalu belajar mencintai diriku sepanjang hari. Mencintai ciptaan-Mu ini sepanjang waktu sampai mereka semua tahu kalau aku sebenarnya berharga.

Aku berarti. Untuk diriku sendiri.

"Dikutip dari novel Revered Back karya Inggrid Sonya hal 196-198"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencintaimu Dalam Diam

Love At The Last Sight *Cerpen

MAKALAH KONSEP DASAR INDONESIA SEBAGAI NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA